Puisi Lawas : BALYANUR MD

Standar

 

PULANG

-kepada Er

Pagi-pagi benar kau berangkat lewat pintu belakang

Alangkah tergesanya !

Isyarat kokok ayam , isyarat derita

Derita ibumu!

Kau bisa saja berangkat lewat seribu pintu

Dan sampai di seratus benua,

Tapi hatimu akan kau damparkan di pantai mana?

 

Coba bilang, dimana kau sembunyi sekarang?

Aku akan menjemputmu dengan kapalku

Lewat air mata ibumu.

 

Keluarlah dari persembunyianmu

Ini aku datang menjemputmu!

Gadis manis tak baik berkepala batu

Sekurangnya kau mesti punya

Kepala roti keju atau kue bolu

Tersenyumlah di tempat persembunyianmu,

Angkatlah kakimu satu-satu

Jemput ibumu, husap air matanya

dengan ujung jarimu.

Er, ini aku!

 1981

 

BEKU

Malam dingin

Kulalui dengan hati dingin

Sambil minum es

1981

 

MATI KETAWA CARA JARKASIH

Jarkasih menemukan buku humor

di pinggir jalan

Jarkasih membaca sambil jalan

Sambil ketawa

 

Tiba-tiba motor datang menerjang

Nyawanya kontan  melayang

Anak-anak mengejar

Disangkanya layang-layang

 

Temanku bilang,

Jarkasih korban humor

Ah, itu kan bisa-bisanya dia saja.

 

SEPIRING PUISI

Sejak mesin tikku tak ada lagi

Aku tak bisa lagi menulis puisi

Tentu kau bertanya.

Mengapa mesin tik tak ada lagi ?

Telah kutukar dengan sekarung nasi !

 

Kini aku ingin menulis puisi

Dengan lima jari

Tapi aku khawatir

Jariku akan tergadai lagi

 

1991

 

LAGU BOGEM MENTAH

Tekotekkotek……………

Anak ayam turun sebelas

Mati sebelas tinggal induknya.

 

Keok ! Keok ! Kek…………

Induk ayam mati tercekik

Mati ayam tinggal malingnya

 

Ampun ! Ampun ! Am……

Maling ayam mati dihakimi massa

Maling mati tinggal massanya

 

Pakketiplakketiplung !

Masa lari dikejar hakim

Massa hilang tinggal hakimnya

 

Tok !

Hakim pulang

tinggal palunya.

1991

 

ETIKA

Demi etika

Dan rasa hormat terhadap orang tua

Maka:

Lagu burung kakak tua

Dirubah syairnya

Menjadi seperti di bawah ini:

“Burung kakak tua

Menclok di jendela

Nenek sudah tua

Giginya utuh semua”

Dan seterusnya

 1991

 

RATAPAN ANAK PENYAIR SPESIALIS

Ada seorang anak berkata pada ayahnya:

Pak, buatlah puisi lagi

Masa uang sekolah harus nunggak lagi.

 

Nak,

Bapak sedang bantu insipirasi

Menangislah sang anak

Memeluknya ke alalm mimpi

 

Nak, bapak mendapat inspirasi !

Akan bapak buatkan seribu puisi

 

Hatta, sejak itu anaknya

Tak lagi menangis.

Tapi justru sebab itu

Dia tidak bisa lagi menulis puisi

(Menurut seorang kritikus, dia penyair spesialis puisi sedih).

1991

 

TIDUR SEBELUM DONGENG

Sebelum nenek sempat mendongeng

Aku sudah terbang kea lam mimpi

 

Bertemu nenek sedang mendongeng

Tentang seekor kera di hutan cemara

yang tak dapat tidur sepanjang usia

 

nenek menutup cerita :

“Hormatilah terhadap orang tua,

Jangan tidur sebelum nenek cerita”.

 

Aku membuka mata ;

Nenek sudah tidak ada !

(Nenek memang sudah lama meninggal dunia)

1991

Hantu Grativikasi

Standar
Hantu Grativikasi

Cerpen Balya Nur
Adaptasi bebas cerpen “Karya Seni”
Karya Anton Chekov

Dengan hati-hati Sasa meletakan tempat lilin di meja kerja Dokter Rudi.
“ Ini barang antik kesukaan ayahku,Dok. Konon kabarnya barang ini berusia ratusan tahun. Maha karya dari Eropa.”
Patung tempat lilin itu memang agak asing di mata Dokter Rudi. Patung seorang wanita memegang semacam obor olimpiade. Obor itu tempat menaruh tiga buah lilin besar. Seberapapun nilai barang itu hanya bisa dipahami oleh penggemar barang antik. Bagi Dokter Rudi barang itu tidak lebih mahal dari hape buatan Cina.

“ Bagaimana kabar Ayahmu? “ tanya Dokter Rudi. Sasa memahami pertanyaan itu sebagai pengalihan pembicaraan. Dia harus lebih meyakinkan lagi bahwa tempat lilin ini bukan tempat lilin biasa.

“ Baik. Dia sudah mulai bisa berjalan walau masih agak gemetar. Saya sengaja diutus datang ke mari memberikan hadiah ini sebagai rasa terima kasih atas perhatian Dokter yang begitu luar biasa merawat Ayah saya selama ini. Patung lilin ini dulu ada sepasang. Pasangannya tentu dokter menyangka patung laki-laki. Tidak. Dia sama persis dengan ini. Itulah yang membuat karya ini punya nilai lebih. Karya yang tidak mains tream pada zamannya. “ Sasa menjelaskan seperti sales yang seharian berjalan barangnya tidak laku-laku.

“Sewaktu pindahan, entah hilang ke mana. Saya sudah berusaha mencari di beberapa tempat barang antik, tapi belum ketemu. Biasanya barang antik yang punya nilai, ke manapun dia menghilang, kalau sudah jodoh dia akan kembali. Seperti Adam dan Hawa yang diturunkan dari Surga di tempat yang berbeda. “

“ Sampaikan terima kasihku pada Ayahmu. Mestinya sih tidak harus repot memberi hadiah. Menyembuhkan pasien sudah menjadi kewajiban saya.”

Dokter Rudi tidak menyangka barang itu akan menjadi masalah baru dalam rumah tangganya. Nyonya Rudi melotot ketakutan melihat tempat lilin itu. Nafasnya tidak normal. Bibibirnya gemetar mengucapkan, “ Grativikasi…grativikasi….”
“ Ini hadiah…”
“ Hadiah dari orang yang dituduh korupsi! “
“ Ayah Sasa hanya saksi kasus korupsi. Dia tidak terbukti terlibat. “
“ Terbukti tau tidak, saksi atau tersangka, sama saja. Hadiah apapun yang diberikan oleh orang yeng berada dalam pusaran kasus korupsi, namanya tetap grativikasi.”
“ Ayolah berpikr jernih. Ini hadiah…”
“ grativikasiii…! ”

Doker Rudi belum pernah mendengar istrinya teriak sekeras itu. Barang milik dokter selalu dibanggakan kebersihan, kesantunannya termasuk istri dokter. Mata melotot istri dokter gejala tidak baik. Ditambah bibir gematar, ditambah pula teriak yang sangat keras.

Dokter Rudi memang mengamati gejala truama baru negeri ini. Trauma grativikasi yang disebarkan oleh virus undang-undang pencucian uang. Hadiah dari seseorang setengah nabi pun bisa jadi malapetaka di kemudian hari. Uang jasa yang diberikan oleh pasiennya pun selalu dicurigai istrinya. Istrinya tidak setuju dia merawat ayah Sasa. Merawat saksi kasus korupsi bisa menyeretnya ke dalam pusaran kasus itu. Tapi sebagai dokter dia harus tetap bersikap profesional.

Cuma untuk perihal pemberian hadiah tempat lilin ini untuk kebaikan rumah tangganya dia harus mengalah. Tempat lilin itu bukan lagi benda antik, tapi sudah seperti mata hantu yang dikiirim oleh jin dari abad entah berapa. Mata hantu itu bisa saja menjadi saksi yang akan menyretnya ke dalam penjara sebagai penerima grativikasi terlepas dari apakah ayah sasa cuma saksi kasus korupsi. Sekali kena tuduh, terbukti atau tidak, hancurlah karirnya.

Untuk mengembalikannya kepada ayah Sasa sama saja dengan menuduh ayah Sasa terlibat korupsi, walaupun barang antik itu dia yakin bukan dibeli dari hasil korupsi. Istrinya meyarankan tempat lilin itu diberikan saja kepada kepala sekolah yang telah berjasa memasukan anaknya ke sokolah favorit yang sangat diidamkan oleh anaknya. Dokter Rudi setuju.

Kepala sekolah yang berjasa itu adalah kepala sekolah yang mempuyai istri yang juga dihantui oleh trauma gartivikasi.
“ Gratiivikasi,Pak…ini grartivikasi,Pak…” Sama dengan istri Dokter Rudi, istri Kepala Sekolah matanya melotot, bibirnya gemetar melihat tempat lilin itu.
“ Berapa sih harga tempat lilin ini? “ Kepala Sekolah sama dengan Dokter Rudi menganggap tempat lilin itu tidak lebih mahal dari hape Cina.
“ grativikasi bukan soal harga, tapi soal asal susul. Dokter Rudy kan yang merawat ayah Sasa si koruptor itu…”
”Hus! Saksi kasus korupsi.”
“ Sama saja! “

Hantu grativikasi yang berbentuk tempat lilin itu kini berpindah ke dalam rumah tangga Kepala Sekolah. Istri Kepala Sekolah menyarankan hantu itu diberikan saja pada keponakannya yang gemar pada barang antik. Kepala sekolah setuju.

Keponakan Kepala Sekolah adalah anak muda yang gemar barang antik. Dia cuma sekedar gemar saja. Tidak memahami nilai dan seluk beluknya. Kebetulan dia sedang bermasalah dengan keuangan. Beberapa barang antik kesukaanya sudah berpindah ke toko barang antik. Pucuk dicinta ulam tiba. Tempat lilin hadiah dari pamannya langung dibawanya ke pasar barang antik. Sasa yang kebetulan berada di pasar itu membelinya sebelum keponakan kepala sekolah menjualnya ke toko barang antik.

Sasa berhadapan dengan Dokter Rudi di ruang praktek Dokter Rudy. Beberapa saat dia tidak bicara, hanya tersenyum, tertawa, tersenyum lagi.
“ Pak Dokter masih ingatkan ucapan saya? “ Sasa tersenyum, tertawa.
“ Saya dulu pernah bilang, pasangan barang antik yang menghilang akan menemukan jodohnya kembali. Cuma soal waktu saja. Dan jodohnya datang dalam waktu yang lebih cepat dari dugaan saya.”
Sasa mengeluarkan tempat lilin yang baru saja di belinya. Dengan bangga diletakannya di meja kerja Dokter Rudi.

“ Taraaa…”

26032014

Puisi-Puisi Plastik

Standar

 

Sebelum puisi ada, matahari sudah ada. Bulan sudah ada sebelum para penyair menulis bulan. Begitu juga  langit, awan,angin, laut, ombak,sungai,, burung, flora, fauna. Sebelum para penyair menulis puisi gerak alam adalah puisi yang bisa dirasakan oleh manusia yang dikarunia akal,rasa,panca indera,dan perlengkapan lainnya yang Allah ciptakan khusus bagi manuisa.

 

Sejak zaman Nabi Adam, gerak alam adalah puisi yang tercipta setiap hari. Walaupun matahari dan langit yang sama setiap hari, tapi rasa yang ditimbulkan bisa berbeda. Tergantung suasana batin yang melihat. Kita dan lingkungan memang hal yang tidak bisa terpisahkan.

 

Sejak manusia mulai menuliskan perasaannya lewat puisi, entah sudah berapa ratus ribu para penulis puisi menilai matahari,bulan,laut, angin bunga, burung dan sebagainya. Tapi bukan berarti setiap penulis puisi langsung menulis ketika melihat sesuatu. Bisa saja dia endapkan dulu dalam batinnya beberapa benda,peristiwa yang dilihat dan dirasakan. Ketika suatu saat dia melihat sesutau dan sesuatu itu berproses dengan  beberapa  elemen  dalam batinnya dan menemukan jodohnya, terciptalah puisi. Jadi kecepatan merespon petistiwa yang dituliskan dalam bentuk puisi bukan puisi instan.

 

Saya mau kasih contoh mutakhir. Peristiwa beras plastik dan mal praktek operasi plastik  cepat direspon oleh para  penulis puisi dalam bentuk puisi. Kecepatan merespon itu bukan berarti tanpa pengendapan alias puisi instan. Peristiwa itu berproses dengan pengalaman batin para penulis puisi sebelum puisi itu ditulis. Bisa kita lihat dari berbagai sudut pandang yang berbeda.  Mungkin saja lebih banyak puisi soal itu.Beberapa contoh di bawah ini kebetulan beredar di beranda fesbuk saya.

 

Di status fesbuk Sukur Budiharjo terdapat tiga puisi karya Dening Tensoe Tjahjono,Slamet Samsoerizal, dan Sukur Budiharjo. Dua nama terakhir , di tahun 80an termasuk penulis  yang cukup produktif di berbagai surat kabar

 

PUISI-PUISI PLASTIK

Beras plastik
Akik plastik
Kembang plastik
Irung plastik
Dhuwit plastik
Omah plastik
Lambe plastik
Negara plastik
Kuburan plastik

*) Dening Tengsoe Tjahjono
++++++++++++++++++++++++++++
NEGERI PLASTIK

di negeri kami
kamu bisa operasi plastik
dan bayar dengan uang plastik

jika lapar
kamu juga bisa menanak beras plastik
dan menyajikannya pada piring plastik
lalu menyantap dengan sendok plastik

di negeri kami
otak rakyat
jiwa rakyat
jasad rakyat
terbuat dari plastik
kamu boleh menamakannya sebagai rakyat plastik
dan para petinggi di segala lini pasti berdarah daging:
plastik!

JR: 22 Mei 2015
*) Karya Slamet Samsoerizal
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Telinganya, tangannya, perutnya, kakinya
Ada di boneka: plastik!

Larasnya, kokangannya, pemicunya, pelurunya
Ada di senapan: plastik!

Anggurnya, jeruknya, pisangnya, apelnya
Ada di nampan: plastik!

KTP-nya, uangnya, SIM-nya, KTA-nya
Ada di dompet: plastik!

Otaknya, jantungnya, hatinya, matanya
Ada di raganya: bukan plastik!
Tapi meleleh parah dan liar
Karena rupiah dan dolar

Jakarta, 22 Mei 2015
*) Karya Sukur Budiharjo

Opini yang dibangun terhadap peristiwa plastik oleh tiga penulis puisi tersebut  memang tidak jauh berbeda, menyeret bedah plastik  palsu dan beras plastik y ang telah memenuhi  ruang kita belakangan ini  menyebabkan kita seolah dikepung oleh hantu plastik. Perbedaanya hanya pada diksi.

Pusi berikut karya Dimas Arika Mihardja yang oleh para penyair muda disebut “Abah” diposting di group New Mbeling 21 Mei 2015. Dalam puisi ini Abah membuat sketsa singkat dengan rima yang berakhiran 2 huruf “k” dan 4 huruf “r” menimbulkan kesan menicbir

 

REFORMASI BIROKRASI

Beras plastik
Bedah plastik
Nasi jadi bubur

Pejabat kabur
Ketangkap saat makan bubur campur bibir
Dan sebotol bir

Mei 2015

Saya juga tak mau ketinggalan menulsi puisi plastic.Saya tulis di satus tanggal 21 Mei 2015

 

AIR MATA PLASTIK

Sudah lama aku ingin menangis
melihat keadaan negeri ini

Air mataku jatuh juga
Bukan air, butiran plastik

 

Puisi memang bisa lentur seperti plastik, jika kepanasan bisa lumer juga.

Puisi 2016 Balyanur MD

Standar

DARI MALIN SAMPAI ARCANDRA

 

Sama sumatera baratnya

Beda masanya

Beda pula kisahnya

 

Bertahun Malin di negeri seberang

Bertahun Mande Rubayah sang bunda berharap malin pulang

Malin pulang   membawa harta dan istri cantik rupa

Hingga lupa membalas budi Mande Rubayah

Jadilah Malin patung batu tanpa tanda jasa

 

Bertahun Arcandra di negeri seberang

Jokowi sang presiden memanggil Arcandra pulang

Arcandra pulang membawa segudang ilmu dan sejuta rencana

Tapi lupa secarik kertas warga negara

Cuma duapuluh hari bekerja

Arcandra dipecat tanpa tanda jasa

Siapa yang  pantas dikutuk jadi arca?

 

17082016

 

WONG CILIK KEHILANGAN IBUNYA

 

Wong cilik kehilangan lagu kebanggannya

Dulu dititipkan pada para seniman

Seniman sekarang betah di istana

Menyanyikan lagu keluarga raja

Lagu yang sulit dicerna maknanya

 

Wong cilik minta lagunya di kembalikan saja

“ Biar kami saja yang menyanyikan, walaupun

suara parau tak apalah. “

“ Lagu yang mana? “ Tanya seniman dengan ponggahnya

Para seniman memang benar lupa setelah menginjak

dinginnya lantai istana

Jangan lagi ditanya, sia-sia saja. Padahal dulu mereka besar

karena meminjam suara wong cilik. Masih ada rekamannya di bawah

puing-puing batu bata, di bawah reruntuhan genting setelah bolduzer

malindasnya rata dengan tanah.

 

Satunya harapan  hanya pada bunda

Katanya bunda mencari bantuan melawan angkara murka

 

Tapi, bunda tak  kembali  ke rumah

Terdengar berita, bunda sedang sedang bercengkrama

dengan angkara murka

Bunda tak akan pernah lagi pulang ke rumah

Sedang menyusun rencana dengan angkara murka

Mencari korban wong cilik berikutnya

 

Wong cilik cuma bisa bernostalgia

saat pangeran datang ke rumah kumuhnya

menggendong bayinya di depan juru kamera

lalu berjanji dengan bahasa yang mudah dipahami rakyat jelata

 

Sekarang pengeran sudah jadi raja

Bayi wong cilik sekarang sudah bisa bicara

“ Kapan raja akan datang “

“ Tidak akan pernah, kita pergi saja. “

“ kemana? “

“ Terserah kaki ini saja. Kita ikuti saja maunya. “

 

19082016

 

Puisi 2015 Balyanur MD

Standar

BALAS BUDI

Ada ubi ada talas
Ada budi ada balas

Tunggu
pembalasan si Budi

BUDE & BUDI

Bude sayang Budi
Walau banyak orang bilang Budi gendut
Bude bilang, atletis

“ Budi mau minta apa?”
“ Bude, nggak muluk-muluk, mau jadi komandan Hansip”
“Cuma itu? Gampang. Nanti Bude bilang sama Pak Lurah.Tapi bener cuma itu? “
“ Mau jadi yang lain aku malu, orang bilang aku gendut”
“ Tidak! Kamu anak sehat tubuhmu kuat! “

Dengan khidmat Pak Lurah mencium tangan Bude
“ Dengan segenap jiwa ragaku, hari ini Budi resmi menjadi komandan Hansip. Ada permintaan lain,Bude? “
“ Kamu harus banyak makan sayuran, Lurah kok kurus kaya gitu…”
“ Siap,Bude”
“ Ada lagi? “
“ Kalau ada yang Bilang Budi gendut, jewer kupingnya sampai merah.”
“ Siap,Bude”
“ Ada lagi? “
“ Jangan lupa, banyak makan sayuran.”
“Siap, Bude”

Budi berubah pikiran
“ Nggak jadi Bude. Perutku nggak bisa disembunyikan. Walaupun Bude bilang aku atletis, tapi faktanya aku memang gendut. Walau orang nggak berani terang-terangan bilan g aku gendut, tapi mata meraka nggak bsia dbohongin, aku akan selalu merasa terhina melihat tatapan kejujuran mereka.”

“ Kalau perlu Bude minta sama Pak Lurah, setiap orang yang bertemu denganmu, harus menunduk.”

“ Jempol kakiku besar,Bude.”

14 Januari 2015

 

GANTENG MAKSIMAL

Garuda mudaku mulai ganteng maksimal

Walau sayapnya dibelenggu oleh pemipimpin negeri ini

Paruhnya masih tajam

Cakarnya masih kokoh

Menggulingkan dua lawan dengan hasil ganteng maksimal

 

Ayo, walau tanpa sayap

Kalian masih bisa menyerang,menerjang!

Ciptakan lagi goal ganteng maskimal

Hingga aku bisa meneriakan.”Aku ingin pemimpin ganteng maksimal! Bukan pemimpin  yang hanya bisa mengina prestasimu! Pemimpi yang menganggap prestasimu bisa diraih semudah janji palsu kampanye! “

 

HIPNO GORONG-GORONG

Masuklah dalam gorong-gorong

Lebihdalamlebihdalamlagi dari sebelumnya

Jika engkau mendengar suara tepuk tangan

Itulah para pemujamu yang menjadi asset berharga

Lebihdalamlebijdalam lagi dari sebelumnya

 

KERETA TERLAMBAT DATANG

 

Kereta terlambat datang

Ayah terlambat pulang

Ibu belum pulang dari pasar

Aku terlambat makan

 

 

Kereta terlambat datang

Guru tidak jadi mengajar

Murid tidak jadi belajar

Pegawai swasta sibuk cari kendaraan

Pegawai negeri punya alasan untuk kembali pulang

 

REJEKI DIPATOK AYAM

 

Seseorang  mengejar ayam yang mematok rejekinya

Lantaran bangun kesiangan

Ayam lari ke rumah tetangga yang bangun setiap pagi

Tapi tak juga dapat rejeki

 

Ayam tertangkap

Keduanya sepakat menjadikan ayam goreng

Rejeki bagi berdua

 

Pemilik ayam  bangun kesorean

Kehilangan rejekinya

 

19082015

 

SANG KODOK

Bango nyalahin kodok
lantaran ngerak ngerok
Kodok nyalahin hujan
lantaran ngak mau turun
Hujan nyalahin ikan
lantaran nggak mau nimbul

Ikan nggak salah
Delak delok Bango tarian kematian
Bagi bangsa ikan

Bango nggak salah
Kalau dia doyan nasi
Nggak bakalan menyantap ikan

Kodok serba salah
Ngerak ngerok di musim kemarau
Bikin para kecebong setiap hari
Mencari alasan baru buat pembenaran

Tanpa Kodok ngerak ngerok
Kalau sudah saatnya hujan akan turun

11 September 2015

 

KOALISI WOYO WOYO

 

Mau presidennya sederhana atau sok wibawa

Sama saja

Harga listrik naik juga

 

Mau presidennya wajah ndeso atau guanteeng

Mau kurus atau gemuk

Sama saja

Harga BBM naik juga

 

Mau presidennya  memakai baju harga ratusan ribu atau jutaan

Sepatu buatan cidodol atau kulit rusa

Sama saja

Harga gas naik juga

 

 

Mau presidennya pro rakyat atau pro pasar

Mau nawacita atau nawa cita-cita

Sama saja

Harga bahan pokok melambung juga

 

Mau presidennya  naik bajay atau mobil mewah

Sama saja

Demi keamanan dan kenyamanan tugasnya

Beli pesawat atau helikopter muahaaaal juga

 

 

Jangan dipikirin

Dari pada bikin perut mual, nyeri lambung, buang air susah,

Migren, kaki kesemutan, bisulan, cantengan

Mending berkoalisi sama Somiah nyanyi lagu woyo woyo

 

Ayo!

Woyo woyo woyo

Woyo woyo woyo

Woyo woyooooo

 

Ayo !

 

1 Desember 2015

 

KORBAN

Pengguna narkoba adalah korban bandar

Pengguna prostitusi adalah korban germo

PKI megaku korban kemanusiaan

Saya lanjutkan

Maling adalah korban kemiskinan

Pembunuh adalah korban dendam amarah

Koruptor adalah korban keserakahan

Silakan lanjutkan

11 Des 2015

 

AIR MATA PLASTIK

Sudah lama aku ingin menangis
melihat keadaan negeri ini

Air mataku jatuh juga
Bukan air, butiran plastik

 

 

 

 

Puisi 2014 Balyanur MD

Standar

 

 

DOA OPLOSAN

Kamu berdoa
“selamat. Semoga tahun depan
hidupmu lebih baik.”
Lafazmu bau oplosan
Jalanmu sempoyongan

Sering aku bilang
Air setan itu haram
Sudah banyak korban bergelimpangan
Kamu bilang, mati urusan Tuhan
Tuhan kamu campur
dalam sebotol oplosan

Sekarang kamu mati beneran
Tidak sempat melihat tahun baru
yang kamu gantungkan di leherku harapan
Aku bingung doa apa aku panjatkan
pada Tuhan yang sengaja kamu lawan

Aku cuma bisa katakan
“ selamat menempuh kehidupan baru
di alam tanpa oplosan, tanpa harapan
cegugkcegukcegukceguk.”

01012014

KUIS SIAPA DIA

Buruk muka
cermin dibelah
Buruk berita
Wartawan kena marah

Banjir pujian wartawan disayang
Banjir kritikan wartawan ditendang

Banjir air langit digaramin
Banjir pertanyaan wartawan digeramin

Kalau ada sumur di ladang
Kita boleh menumpang mandi
Kalau banjir masih menggenang
Kita nggak bisa mandi

Berakit-rakit ke hulu
Berenang ke tepian
Jadi wakil dahulu
Jadi ketua dua tahun kemudian

Ringan sama dijinjing
Berat sama dipikul
Waktu kampanye bilang ringan
Sekarang bilang beraaat
(nggak nyambung ya…)

O, o ,o, siapa dia…

10 Pebruari 2014

MAU NGGAK MAU

Mau demonstrasi sampaikan aspirasi
Nggak mau percaya pada politisi
Nggak mau percaya presiden dan para menteri

Mau demokrasi
Nggak mau nyoblos
Nggak mau melihat pameran wajah caleg

Mau nyoblos
Nggak mau kalau capresnya Megawati
Harus Jokowi!
Mau piljok
Nggak mau pilpres

Bagaimana kalau monarki?
Nggak mau !
Bagaimana kalau orde lama balik lagi?
Nggak mau!
Bagaimana kalau orde baru balik lagi? Enak zamanku toh?
Nggak mau!
Bagaimana kalau reformasi lagi?
Nggak mau!
Bagaimana kalau Jokowi?
Nggak mau! Eh, siapa tadi?
Tau ah gelap.

26022014

 

BATU TULIS

 

Belajar di waktu kecil

Bagaikan menulis di atas batu

Belajar di masa tua

Bagaikan menulis di atas air

 

 

Makanya kalau sudah tua

Jangan menulis di atas batu

Apalagi bikin surat perjanjian

Batunya bisa melayang ke kepala

Menghindar cuma satu cara

Nyebur ke dalam air

Sambil menyelam ikut belajar

Sama orang tua

18 Maret 2014

 

CETAR MEMBAHANA

Terpampang nyata
DPR jadi dua
PPP jadi dua
Ahmad Dani bikin kabinet bayangan
kementrian ekonomi kreatif katanya
karena di kabinet kerja memang nggak ada

Kita nyanyi saja
maju
mundur
maju
mundur
cantiiik

2nop 2014

 

TIDUR

Tidur di kamar
cuma dapat mimpi
jadi mentri

tidur di kereta
bisa beneran jadi mentri

tidur di kursi dewan
bermimpi jadi mentri
eh, malah kena bully

17 nop 2014

 

KENA TERUS

Naik motor
Akses jalan mulai dibatasi
Nekad,kena tilang

Naik kereta
Jadwal sering ngaco
Kena marah bos terus

Naik bus padat penumpang
Kena copet

Nak bus sepi penumpang
Kena todong

Naik taksi
Kena rampok

Memaksakan beli mobil
Kena KPK

4 des 2014

 

 

 

Top of Form

Suka · · Promosikan

Bottom of Form

 

Puisi 2013 BALYANUR MD

Standar

DOG DOG DOG ..DOGDOG. JEGER!

 

Dogdogdog dog dog

Kacap kacarito

Mobil merah mandi kembang

Ruwatan calo keselamatan

Allah pemilik keselamatan diduakan

Jeger!

Beruntung Allah cuma memberi sedikit peringatan

Mobil merah hancur berantakan

Beruntung Sang Dahlan tidak ikut mandi kembang

 

Ndak tahulah kalau tengah malamnya Sang Dahlan mandi kembang

Ruwatan  sendirian atas keselamatan dari kecelakaan

Allah sang pemilik keselamatan diduakan

Mau minta keselamatan aja kok ya repot

Harus pake calo segala.

Sudah bayar mahal, tak selamat seratus persen pula

 

Padahal  ada cara tanpa calo, tanpa biaya

Cukup modal dua tangan menengadah dengan ikhlash dan tulus

Mohon langsung kepadaNya.

Walaupun tidak juga ada garansi keselamatan

Paling tidak selamat krisis iman

karena tidak menduakan Tuhan

 

6 Januari 2013

 

PAGI PAGI

Pagi pagi
Belum mandi
Nongkrong depan televisi

Berita selebriti mau kawin nggak jadi
Ada yang pindah agama nggak mau mengakui
Farhat abbas ditantang berkelahi
Ayu tingting versus suami
Polisi masih mencari istri Piyu Padi

Ganti chanel lagi
Ada politisi mengomentari kasus century
Lumayan pagi-pagi dapat amplop dari televisi
Walau komentarnya sudah basi pernah diucapkan berulang kali

Ganti chanel lagi
Komentator dengan suara serak pertanda belum mandi
Mengomentari melalui seluler kasus semalam baru terjadi
Seakan dia banyak tahu padahal semalam dia masih asyik bermimpi

Ganti chanel lagi
Warga antar desa tawuran lagi
Mahasiswa tawuran lagi
Pelajar tawuran lagi

Ganti chanel lagi
Jokowi lagi Jokowi lagi

Ganti chanel lagi
Demontrasi lagi demontrasi lagi

Ganti chanel lagi
Hmmmm saluran apa ini bau terasi?
O,ya aku belum mandi

27112013

 

ZIARAH TUJUH BELAS

 

Arak-arakan bocah nyanyikan lagu kemerdekaan

Ziarah bagi pahlawan yang tertanam di tiap jalan

Debu mengabarkan dulu di sini di sana

Mereka berlari tanpa alas kaki

Menggegam senjata seadanya

Mati tertembak

Darahnya mengalir mengering

Tulang dagingnya menyatu dengan tanah

Tanah yang kita tanami

Kita makan kembali menjadi darah menjadi daging

 

Arak-arakan bocah nyanyikan lagu kemerdekaan

Ziarah bagi pahlawan yang tertanam di tiap jalan

Tanah yang dipijak tertanam mereka yang tidak mengerti arti pahlawan

Mereka cuma mengerti bertahan merebut tiap jengkal tanah

yang menjadi kubur mereka tanpa tanda

 

Tanah yang kita pijak setiap hari

Walau tanpa suara

Mereka mendengar

Kita mendengar?

 

Agt.2013

 

DELHI 6 Melawan Provokasi Media Televisi Dengan Cermin

Standar
DELHI 6  Melawan Provokasi Media Televisi Dengan Cermin

 

Roshan (Abhisek Bachchan) seorang muslim yang lahir dari ayah hindu dan Ibu muslimah, tumbuh dewasa di Amerika. Film Bollywood, Delhi 6,produksi tahun 2009 plotnya berjalan dalam sudut pandang Roshan seperti sudut pandang tokoh orang pertama ( Aku) dalam prosa.

Film yang bulan agustus ini ditayangkan Zee Bioskop dibuka saat Roshan mudik ke daerah kelahiranya, Old Delhi. Selama di Amerika nampaknya dia telah tercerabut dari akar budaya moyangnya. Benturan budaya itu nampak ketika Roshan mengantar neneknya Annapura ( Waheeda Rahman ) yang pingsan karena fluktuasi kadar gula darah menuju rumah sakit, di tengah perjalanan dia terjebak macet. Ternyata kemacetan itu disebabkan ada sapi yang akan melahirkan. Roshan protes keras, tapi orang-orang tak perduli, bahkan Roshan dapat kejutan,  neneknya yang pingsan  tiba-tiba bangun dan menghampiri sapi itu. Roshan memang kesulitan menjadi orang India. Sutradara yang juga produser Rakeysh Omprakash Mehra dengan bagus sekali menggambarkannya dengan Roshan yang baru bangun tidur di atap rumah susun melihat patung liberty berada di tengah kota, ketika dia menelusuri beberapa sudut kota, patung liberty itu tetap nampak. Acungan jempol juga layak diberikan pada editor PS Bharati yang tidak memberi peluang penonton untuk sedikit bergeser dari tempat duduknya. Walaupun  scenario film Delhi 6 banyak maunya, tapi editor berhasil membuat film ini tidak membosankan.

Jantung cerita film ini adalah ketika televisi memberitakan munculnya Kala Bandar, sosok monyet hitam yang telah membuat ketakutan massal. Padahal belum pernah ada yang melihat secara jelas sosok Kala Bandar itu, tapi pemberitaan televisilah yang telah jadi biang keladi kepanikan penduduk. Korban yang disebabkan oleh kala Bandar adalah yang terjatuh dari tangga, kecelakaan di jalan, melompat dari apartemen, disebabkan melihat bayangan hitam yang disangkanya Kala Bandar. Televisi telah menjadi porovokator dengan melebih-lebihkan cerita Kala Bandar, padahal sosok itu tidak pernah ada. Kala Bandar yang memang tak pernah ada itu di dengan sangat bagus dibahasa gambarkan oleh sutradara dengan adegan Roshan mengejar layang-layang bergambar wajah monyet hitam. Roshan melompat dari atap apartemen ke atap apartemen lain seperti seekor monyet, tapi tetap tidak berhasil mendapatkan layang-layang itu, sambil terengah-engah, nampak Roshan berpikir  keras. Apa yang dipikirkan Roshan? Baik Roshan dan juga penonton mungkin belum menemukan jawabannya. Simpan saja dulu pertanyaan itu, nanti pada akhir film baru bisa menemukan pintu masuk jawabannya.

Provokasi televisi itu memicu kembali pertentangan kelompok Muslim dan kelompok Hindu yang sebelumnya baru saja pulih dari perseteruan. Korban dari kepanikan pemberitaan Kala Bandar kebetulan dari dua kubu yang berseteru itu. Kedua kubu saling tuding kalau Kala Bandar adalah penebar teror dari kubu lawannya. Kerusuhan kecil kembali terjadi,saling serang,saling bakar gedung.

Di tengah kekecauan ini Roshan menawarkan diri menjadi penengah, latar belakang  perbedaan keyakinan kedua orang tuanya mungkin bisa menjadi pertimbangan. Tapi justru hal itu malah menjadi alasan penolakan kedua kubu. Roshan bukan dianggap muslim asli, apalagi latar belakang Hindu walaupun neneknya penganut hindu yang taat. Bahkan ketika dia mengantarkan neneknya yang ingin sembahyang di sebuah kuil  ditolak oleh beberapa penganut Hindu. Padahal sebenarnya para penolak itu termakan provokasi rentenir Lala Bhairam (Prem Chopra) yang menuduh Roshan telah berselingkuh dengan istri mudanya, padahal tuduhan itu tidak beralasan. Juga ditambah provokasi ayah Bittu (Sonam Kapoor ) yang menuduh Roshan menggagalkan pernikahan Bittu dengan pemuda lokal, padahal Bittu memang tidak ingin menikah karena ingin ikut audisi Indian Idiol dalam mengejar ambisinya menjadi idola India. Jadi penolakan itu bukan berlatar belakang agama, tapi persoalan pribadi.

Pada saat kelompok Hindu dan kelompok Muslim sudah berhadap-hadapan maju berbarengan ingin saling menyerang, hanya tinggal beberapa senti saja, tiba-tiba mereka melihat sosok hitam melompat dari atas gedung ke gedung lain, tanpa dikomando kedua kubu mengejar sosok hitam itu, melupakan sejenak pertikaian. Harap maklum, sosok Kala Bandar ( monyet hitam ) yang selama ini menjadi pemicu perseteruan belum pernah mereka lihat sosoknya.

Sosok hitam itu ternyata Roshan yang memakai pakaian dan topeng monyet. Dia bermaskud ingin menemui Bittu yang kabur dari rumahnya, ingin mengungkapkan perasaan cintanya, ingin membuat kejutan dengan kostum Kala Bandar. Kedua kubu sampai di tempat itu kontan menyeret Roshan, menghajarnya beramai-ramai hingga sekarat, saat kritis itulah datang Gobar (Atul Kulkarni ) pemuda idiot yang sebelumnya oleh penduduk  diminta mencari rambut Kala Bandar ke Galli sone. Gobar membawa rambut Kala Bandar sekaligus membuktikan bahwa Roshan bukan Kala Bandar. Padahal rambut itu adalah  rambut gadis pemulung, Jalebi (Divya Dutta) yang sengaja memotong rambutnya diberikan pada Gobar, anehnya warga mempercayainya sebagai rambut Kala Bandar. Barangkali ending inilah salah satu kelemahan film ini, menggampangkan penyelesaian konflik yang sudah dibangun dengan kompleks.

Terlepas dari kelemahan itu, film ini telah berhasil menggugah kesadaran pentingnya pertahanan diri dari provokasi. Pada saat sekarat, Roshan bertemu dengan almarhum kakeknya ( Amitab Bachchan )  kakeknya minta maaf pada ayah ibu Roshan karena telah menolak pernikahan beda Agama. Penyebabnya adalah karena ada Kala Bandar dalam dirinya.

Sebelumnya Roshan dalam upaya mendamaikan kedua kelompok menggunakan cermin lusuh. Dia meminta semua orang bercermin. Roshan mengatakan, Kala Bandar yang sesungguhnya ada dalam diri mereka. Nah, di sinilah jawaban saat Roshan mengejar layang-layang bergambar wajah monyet hitam. Roshan mengejar layang-layang seperti seekor monyet, melompat dari satu atap ke atap lainnya dalam rangka mengejar wajah monyet pada layang-layang. Maknanya jelas, Kala Bandar sesungguhnya adalah dirinya.

Pesan dalam film ini juga cukup jelas. Kerjaan media memang membuat provokasi agar usahanya bisa tetap hidup, berita yang kecil dibesarkan, berita yang tidak ada diada-adakan. Tugas kita sebagai penerima informasi adalah dengan menghilangkan Kala Bandar ( ego pribadi dengan niat buruk ) dalam diri kita hingga berita itu  mati begitu saja.

Jika ada dua kelompok yang bersebarangan menerima berita fitnah,padamkan kala Bandar dalam diri masing-masing hingga tidak langsung menuduh kubu lawannya yang membuat fitnah, karena bisa jadi berita itu datang dari provokator yang sengaja memecah belah, sampai bisa dibuktikan fitnah itu memang datang dari kubu lawan. Atau acar lain, kedua kubu kompak melawan fitnah itu.

Kala Bandar ( Monyet Hitam ) yang marak diberitakan dalam film Delhi 6 tidak dapat dibuktikan sosoknya karena memang tidak ada sosok itu. Televisi mengambil keuntungan dari berita provoaksi itu, para birokrat, politisi, para pengamat juga mengambil keuntungan untuk kepentingannya masing-masing dengan ikut menyiram bensin berupa komentar yang malah menambah keyakinan warga bahwa memang benar ada sosok Kala Bandar.  Selalu saja rakyat yang menjadi korban berbagai kepentingan.

Balya Nur

Daru,Tangerang, 7 Agustus 2014